Motif Batik Solo

Solo atau Surakarta Hadiningrat merupakan kota budaya yang terletak di propinsi Jawa Tengah, Indonesia yang sangat lekat dengan budaya jawa, slogan “the spirit of java” menunjukkan semangat warga solo untuk melestarikan budayanya yang sudah mengurat mengakar. Begitu juga dengan kekayaan aneka ragam motif batiknya. Ada ribuan motif batik di Solo, baik motif batik tulis atau tradisional maupun motif batik printing dengan desain baru. Motik batik tradisional yang paling terkenal antara lain :
Motif Parang
Ada berbagai motif Parang , yang terkenal antara lain :
Contoh Batik Solo dengan motif Parang Rusak
Batik Solo motif Parang Rusak
Gambar Batik Solo dengan motif Parang Gendreh
Batik Solo motif Parang Gendreh
Gambar Batik Solo dengan motif Parang Tuding
Batik Solo motif Parang Tuding

Motif  ini adalah salah satu motif batik yang tertua di nusantara. Kata parang diambil dari kata “pereng” yang berarti “lereng” yang menggambarkan sebuah garis menurun secara diagonal. Susunan motif ini mirip huruf “S” jalin menjalin tiada putus yang melambangkan makna kesinambungan, motif mirif huruf “S” terinspirasi dari ombak samudra yang melambangkan makna semangat yang tiada pernah surut. Batik motif parang ini adalah motif asli nusantara yang sudah ada sejak zaman kerajaan Mataram Kartasura (Solo)

Makna yang tersirat pada motif batik parang ini ialah sebuah nasihat agar siapapun orang yang memakainya agar mempunyai semangat  pantang menyerah, kokoh bagai batu karang yang tidak pernah lekang walau selalu diterjang ombak,. Juga bermakna upaya untuk selalu memperbaiki diri, berjuang demi kesejahteraan maupun wujud pertalian kekeluargaan yang tidak pernah putus.

Motif Kawung
Batik Solo motif Kawung mempunyai pola berbentuk bulatan-bulatan yang mirip buah Kawung, yaitu sejenis kelapa kecil atau disebut buah kolang-kaling yang tertata berjajar rapi secara geometris. Motif Kawung juga dimaknai sebagai gambar bunga lotus yang sedang merekah dengan empat lembar daun bunganya. Lotus dimaknai sebagai bunga yang melambangkan umur yang panjang dan kesucian. Biasanya motif Kawung dinamai sesuai dengan besar kecilnya bentuk bulatan-bulatan yang terdapat pada motif tersebut. Yang tersusun dari bulatan-bulatan yang kecil disebut motif Kawung Picis (Picis adalah mata uang logam kuno bernilai 10 senyang yang kecil bentuknya. Kawung  Bribil lebih besar dari kawung picis (bribil adalah mata uang logam kuno bernilai setengah sen yang bentuknya lebih besar dibanding picis). sedangkan Kawung Sen bentuknya bulatan-bulatannya lebih besar daripada Kawung Bribil.
Gambar Batik Solo dengan motif Kawung
Batik Solo motif Kawung

Pada jaman dahulu motif ini  hanya dipakai oleh kalangan ningrat, dengan memakai batik motif  ini akan mencerminkan kepribagain pemimpin yang bijaksana, mampu menguasai hawa nafsu dan menjaga kesucian hati nurani, tapi di era kini motif ini sudah biasa dipakai oleh berbagai kalangan dengan aneka model.

Motif Sido Mukti
Motif batik ini sangat ditemukan karena cukup terkenal. Motif ini dipakai sebagai busana adat pengantin Jawa khususnya busana adat untuk masyarakat Solo.

Motif Sidomukti berasal dari kata “sido” yang berarti jadi, dan  “mukti” yang berarti makmur / sejahtera.

Gambar Batik Solo dengan Motif Sido Mukti
Batik Solo Motif Sido Mukti

Bagi orang Jawa, kehidupan yang didambakan selain keluhuran budi pekerti, tindakan dan ucapan, adalah pencapaian kemakmuran atau “mukti”, baik dunia maupun akhirat. Setiap orang tentu mendambakan kemakmuran dan ketenteraman lahir dan batin

Dengan memakai busana bermotif sido mukti ini, kedua mempelai diharapkan agar dalam mengarungi bahtera kehidupan rumahtangganya akan senantiasa berbahagia dan mendapat rizqi yang melimpah Motif ini bermakna suatu harapan sebuah kehidupan di masa depan yang berbahagia dan sejahtera, tanpa melupakan Tuhan yang Maha Esa sebagai pemberi kehidupan.

Motif Truntum 
Motif Truntum konon diciptakan oleh Kanjeng Ratu Kencana (Permaisuri Sunan Paku Buwana III) yang bermakna cinta kasih yang bersemi kembali. Beliau membuat motif ini sebagai simbol cintanya yang sangat tulus tanpa syarat, abadi, dan semakin lama semakin subur berkembang (“tumaruntum”). Karena makna filosofi tersebut, kain bermotif truntum ini biasa dikenakan oleh orang tua pengantin pada saat penikahan. Dengan harapan agar cinta kasih yang tumaruntum ini akan selalu menyertai kedua mempelai.

Gambar Batik Solo dengan Motif Truntum
Batik Solo Motif Truntum

Kadang motif ini dimaknai juga bahwa orang tua berkewajiban untuk “menuntun” dan memberi contoh kebaikan pada kedua mempelai dalam memasuki kehidupan baru agar bisa berbahagia dalam mengarungi bahtera rumah tangganya.

 Motif Sawat
“Sawat” artinya melempar. Zaman dulu orang Jawa percaya bahwa para dewa yang mengendalikan alam semesta. Diantaranya ialah Batara Indra yang bersenjata bajra atau wajra, yang berarti “thathit” (kilat). Senjata ini digunakan dengan cara melemparkannya (nyawatake). Bentuk senjata ini mirip seekor ular yang bersayap  dan bertaring.  Bila dilemparkan, senjata ini akan menyambar – nyambar dan mengeluarkan suara yang bergemuruh dan menakutkan.Walau menakutkan, wajra juga mendatangkan keberkahan karena dianggap sebagai pembawa hujan. Senjata pusaka Batara Indra ini diwujudkan dalam motif batik berbentuk sayap dengan harapan agar si pemakai selalu mendapat perlindungan.

Gambar Batik Solo dengan Motif Sawat
Batik Solo Motif Sawat

Motif sawat hingga saat ini masih sering dipakai pasangan pengantin saat prosesi pernikahan, juga dipakai dalam busana batik moderen dengan pembauran motif lainnya sehingga semakin  mempesona.


Motif Satrio Manah
Motif Satrio Manah sering digunakan wali pengantin pria saat prosesi meminang / lamaran pada mempelai wanita. Makna motif ini ialah agar dalam lamarannya diterima pihak calon pengantin putri beserta keluarga besarnya.

Gambar Batik Solo dengan Motif Satrio Manah
Batik Solo Motif Satrio Manah


Sesuai dengan makna kata yang tersirat, motif ini juga diartikan sebagai seorang ksatria yang membidik kekasihnya dengan busur dan panah, sedangkan mempelai wanita akan memakai batik bermotif semen rante.

Motif Semen Rante
Motif ini berasal dari kata “Semi / Semen” yang artinya tumbuh dan “Rante” yang artinya rantai, melambangkan hubungan erat dan mengikat, menyiratkan suatu makna ikatan yang sangat kokoh. Motif ini sering dipakai oleh mempelai wanita saat dipinang oleh sang pria pujaan hati yang mengenakan busana motif batik satrio manah.

Gambar Batik Solo dengan Motif Semen Rante
Batik Solo Motif Semen Rante 

Dengan motif batik Semen Rante ini, pengantin wanita mengkomunikasikan pada pasangan pujaan hatinya bahwa ia mendambakan suatu ikatan yang kokoh sehingga tidak dapat dipisahkan. Pada jaman dahulu jika pihak calon mempelai wanita memakai motif batik semen rante, maka bisa  dipastikan bahwa lamarannya sudah pasti diterima.

Demikian sekilas ulasan tentang motif batik Solo ini, semoga menambah wawasan kita tentang kekayaan budaya warisan nenek moyang kita yang indah mempesona dan penuh makna ini. Terimakasih atas kehadiran Anda.

Pos terkait